Permata yang Tersimpan Dalam Etalase Kaca

Mentari kembali hadir seiring dengan mengeringnya embun pagi dibibir dedaunan. Saat fajar berlalu,  cahaya itu kembali bersinar, dan asapun kembali berpijar.

Biarkan hidup ini bernyayi bersama duka yang selalu menyapa. Hidup ini begitu indah kawan, ketika kita bisa menjadi oase ditengah gersangnya gurun pasir yang tandus. Tak perlu sempurna untuk disayangi. Tak perlu istimewa untuk bisa berarti. Tak perlu mahkota untuk menjadi seorang raja. Tak perlu singgasana untuk menjadi seorang penguasa.

Karena hati yang bening adalah kunci segalanya. Hati yang bening adalah hati yang menerima segala takdir-Nya dengan ikhlas. Menerima dengan sabar dan lapang dada tanpa meninggalkan ikhtiar yang ada. Selalu berharap apa yang diberikan-Nya adalah yang pilihan yang terbaik dan terindah.

Kawan…Hati adalah mahkota kita, singgasana kita, kerajaan kita di dunia dan akhirat nanti. Jika ia baik, niscaya akan baik kehidupan kita. Jagalah ia dengan sebaik-baiknya bagai permata yang tersimpan dalam etalase kaca…

Palembang, 05 Mei 2009

Jalan berliku mencapai gelar master pendidikan matematika

Geometri Fraktal : Ketika Keindahan Bahasa Matematika Menyentuh Kehidupan Kita

Ditulis oleh : Refi Elfira Yuliani, S.Si

Matematika itu abstrak. Penuh dengan angka-angka yang memusingkan kepala. Mungkin ini adalah suatu pemikiran yang selama ini setia berada di kepala kita. Bertahun-tahun kita bergelut dengan matematika. Mulai dari usia pra sekolah, sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Selama itu juga kita bersentuhan dengan matematika yang terasa sangat mekanis dan jauh dari kehidupan kita.

Mungkin kita sering bertanya, apa gunanya fungsi, turunan, limit, diferensial, integral, dan seabreg materi matematika lainnya yang sangat bersifat abstrak dan memusingkan kepala itu, untuk kehidupan kita di dunia nyata. Berbagai pertanyaan itu mungkin hanya menjadi pemikiran yang mengisi sebagian kecil ruang di ruang pemikiran kita yang sarat dengan persoalan hidup yang semakin pelik.

To be continue…….

Duh….sulitnya menulis puisi matematika….

Meski sudah terbiasa menulis puisi sedari kecil. Meski sudah bergelut dengan matematika sejak 20 tahun yang lalu. Ternyata tak menjamin saya mampu membuat puisi matematika dengan mudah. Berulangkali saya mencoba menggoreskan rangkaian kata demi kata tentang matematika itu. Namun rangkaian kata itu belum mampu mencerminkan apresiasi saya yang sesungguhnya terhadap matematika. Saya jadi berfikir, apakah mungkin hal ini terjadi karena saya sepenuhnya belum mencintai matematika (sebenarnya saya sudah jatuh cinta pada saat pertama kali kenal dengan matematika lho…). Atau saya memang tidak mampu mempuisikan matematika karena saya terlalu mencintainya??? He..he…he… ini hanyalah obrolan ringan tentang ketidakmampuan saya menulis puisi matematika. Duh….sulitnya menulis puisi matematika… 

” Sejenak Berhenti, Merenungi Langkah yang Tlah Dilewati”

Hari ini adalah hari yang tidak terlalu melelahkan dibandingkan dengan hari-hari kemarin. Biasanya hari-hari yang ada dilalui dengan kesibukan yang luar biasa, menguras tenaga dan fikiran. Bekerja sambil kuliah bukanlah hal yang mudah untuk dilakoni. Konsentrasi terpecah menjadi dua, antara tuntutan profesi dan tuntutan pendidikan.

Hari ini saya coba sejenak berhenti dari rutinitas, merenungi semua hal yang pernah saya lalui. Mengeja langkah demi langkah yang telah saya  ambil.  Akhirnya saya sadar, bahwa saya telah memilih  dan sebagai konsekuensinya saya harus  menerima  segala hal yang terjadi  akibat pilihan saya sendiri.

Kembali mengingat perjalanan hidup selama seperempat abad lebih,  ada banyak goresan yang terukir  dalam sejarah kehidupan ini. Terkadang bahagia, terkadang duka. Semua menyapa silih berganti. Suka bersama senyuman bahagia membuat hati berbunga. Duka bersama air mata membuat jiwa terluka. Perjalanan itu ternyata membuat saya tersadar bahwa hidup ini adalah sebuah misteri yang hanya diketahui oleh-Nya, Sang Khalik..Kewajiban kita sebagai hamba hanyalah mengabdi pada-Nya. Berusaha dengan segenap kemampuan yang ada. ..dan tak perlu menyesali yang tlah terjadi. Namun, harus mengambil pelajaran dari setiap pengalaman yang ada…

Peran Pendidik Muda : Mendesign Pembelajaran Matematika yang Unik dan Menarik

Matematika seringkali menjadi momok yang sangat menakutkan bagi siswa di setiap jenjang pendidikan. Kesan pertama yang tidak menyenangkan terhadap matematika, menjadikan matematika bagai menara gading yang sulit untuk dijamah oleh siswa. Banyak faktor yang menyebabkan matematika tidak berkesan di hati siswa. Mulai dari guru yang galak, materi yang terlalu banyak, tugas yang bejibun, metode yang tidak menarik sampai fasilitas pembelajaran yang tidak memadai. Akibatnya matematika tidak dapat dijadikan sebagai alat untuk mencerdaskan generasi muda bangsa ini, namun hanya sebagai kegiatan mekanis untuk mendapatkan nilai di dalam raport atau ijazah kelulusan.

Hal ini sudah menjadi pemikiran bagi pelaku pendidik dan para pengambil kebijakan. Beberapa kebijakan sudah dicanangkan, meskipun belum mendapatkan hasil yang optimal. Dan sudah seharusnya sebagai seorang pendidik muda, kita ikut berperan aktif dalam menyelesaikan masalah ini. Seorang guru matematika harus mampu mendesign pembelajaran matematika “secantik” mungkin. Menciptakan ide-ide kreatif yang inovatif untuk meningkatkan motivasi peserta didik terhadap matematika. Selalu melakukan riset terhadap pencapaian siswa pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sehingga matematika dapat menjadi alat untuk mengembangkan logika berfikir siswa, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas generasi muda bangsa ini.

Apakah sebagai pendidik muda yang baru terjun sebagai pendidik kita mampu untuk melakukan suatu pembaharuan? Pasti mampu!! Kuncinya disini adalah apakah kita mau dan mau melakukan hal tersebut. Hal ini kembali kepada niat kita menjadi seorang pendidik. Ketika kita berniat mendidik hanya untuk mendapatkan gaji di akhir atau awal bulan, maka yang kita dapatkan hanyalah gaji tersebut. Namun, ketika niat kita mendidik tulus untuk mengajarkan ilmu dan nilai serta akhlak yang baik, maka kita akan berusaha semaksimal mungkin agar tujuan kita tercapai. Seberat apapun pasti akan kita jalankan, karena kepuasan melihat anak didik kita berhasil tidak akan bisa dinilai dengan lembaran uang.

Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita, sebagai pendidik muda untuk mendidik generasi muda bangsa ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita harus yakin bahwa setiap kebaikan yang kita usahakan suatu saat nanti pasti akan menjadi alat perubahan yang dapat merubah bangsa ini.

Jadi, sebagai guru matematika kita dituntut untuk mampu mendesign pembelajaran  matematika yang unik dan menarik. 

Selamat menjadi pendidik bagi mereka yang bergabung dalam laskar para pendidik!!!! Ubahlah wajah bangsa ini menjadi lebih menawan dengan ilmu, amal dan iman. Insya Allah setiap keringat yang kita teteskan dalam mendidik akan dicatat oleh Allah, meski tidak tergores dalam lembaran kertas dan tinta sejarah atau terpatri dalam prasasti….. 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!