Permata yang Tersimpan Dalam Etalase Kaca

Mentari kembali hadir seiring dengan mengeringnya embun pagi dibibir dedaunan. Saat fajar berlalu,  cahaya itu kembali bersinar, dan asapun kembali berpijar.

Biarkan hidup ini bernyayi bersama duka yang selalu menyapa. Hidup ini begitu indah kawan, ketika kita bisa menjadi oase ditengah gersangnya gurun pasir yang tandus. Tak perlu sempurna untuk disayangi. Tak perlu istimewa untuk bisa berarti. Tak perlu mahkota untuk menjadi seorang raja. Tak perlu singgasana untuk menjadi seorang penguasa.

Karena hati yang bening adalah kunci segalanya. Hati yang bening adalah hati yang menerima segala takdir-Nya dengan ikhlas. Menerima dengan sabar dan lapang dada tanpa meninggalkan ikhtiar yang ada. Selalu berharap apa yang diberikan-Nya adalah yang pilihan yang terbaik dan terindah.

Kawan…Hati adalah mahkota kita, singgasana kita, kerajaan kita di dunia dan akhirat nanti. Jika ia baik, niscaya akan baik kehidupan kita. Jagalah ia dengan sebaik-baiknya bagai permata yang tersimpan dalam etalase kaca…

Palembang, 05 Mei 2009

Jalan berliku mencapai gelar master pendidikan matematika

1 Komentar »

  1. Eric Said:

    tapi kok sulit nian yo buk nak menata hati ne…

    buk kapan2 mampir ke blog eric


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: